Hari ini hari senin, hari yang ku benci. Sore ini aku harus pergi ke sebuah gedung menyebalkan disebut sekolah musik. Mungkin bagi sebagian besar teman-temanku disana, tempat itu sungguh menyenangkan...Alat-alat musik akustik dimainkan dengan indah.Mereka bisa memilih sendiri alat musik apa yg ingin mereka pelajari.
Namun tidak bagiku, aku benci musik, apalagi musik klasik. yang terpaksa aku dengarkan setiap sabtu sore.
"Via, segeralah bersiap-siap, nanti jam 4 kamu akan sekolah musik bukan?" tegur bunda dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Iya bunda, sebentar lagi aku berangkat!" teriakku dari kamar
Yap, aku terpaksa mengikuti kehendak bunda agar aku belajar bermain biola di gedung menjengkelkan itu. Aku tau bunda akan sangat kecewa bila aku menolaknya. aku masih punya cukup hati untuk itu. Bunda begitu terobsesi dengan biola. Bahkan, beliau sering pergi ke luar negrei untuk mengikuti konser / lomba memainkan biola. Namun impian bunda seketika pupus karna harus kehilangan tangannya karena sebuah kecelakaan. Jadi bunda melampiaskan semuanya padaku.
"Via, cepatlah nak, jangan sampai kau terlambat! ini biolamu sudah bunda siapkan"
Aku tersadar dari lamunanku, jarum jam menunjukkan angka 15.50. Aku pun berpamitan pada bunda, dan melesat bersama sepeda kesayanganku.
Takdir mengantarkan menjadi anak tunggal yang yatim, membuat bunda menaruh harapan besar padaku, aku tak ingin mengagalkan keinginan bunda, tapi ini semua bukan duniaku. Bagaimanapun aku harus mengatakan hal ini pada bunda suatu saat nanti.
Siang itu, ketika aku baru pulang setelah bermain basket dengan teman priaku, kudapati keadaan rumah begitu sepi, lebih sepi dari biasanya.
"Dimana bunda?" pikirku dalam hati.
Kutengok dapur, Bunda tak disana. Begitu juga di ruang baca, bekas ruang kerja ayah dulu, bunda tak terlihat disana.
Namun akhirnya kutemukan bunda terbaring lemas diatas ranjang. Wajahnya pucat dan tampaknya ia kesakitan.
"Bunda, bunda kenapa? bunda sakit? ayo Via antarkan ke dokter!" kataku.
"Bunda tidak apa-apa, hanya sakit kepala biasa. Istirahat bentar juga pasti sembuh."
aku mengelus kening orang yang paling ku sayang.
"Via."
"Iya bunda"
"Belajarlah bermain biola dengan sungguh-sungguh ya, jangan kecewakan bunda"
Aku hanya mengangguk, tak berani meng-iyakan.
"Bunda sudah tua, kamu pun sudah dewasa, bunda ingin sekali melihat Via sukses sebelum bunda berpulang"
"Bunda, Jangan bicara yang tidak-tidak, Via sayang sama Bunda!"
Bunda hanya tersenyum , kata-kata bunda membuatku tersentak. Bagaimana aku bisa berprestasi bila aku tidak bisa memainkan 1 lagu yg telah diajarkan? Ku lihat bunda terlelap disampingku, aku mengelus pipi bunda ,namun aku merasakan sesuatu yg kurang.
"Bunda bunda" teriakku panik
Aku baru menyadari nafas bunda tersendat-sendat. Aku menangis dalam perjalanan ke rumah sakit. Aku menangis dalam perjalanan ke rumah sakit, aku berdoa agar bunda masih diberi kesempatan untuk hidup.
Setelah lama menunggu...
"Ibu anda berhasil kami selamatkan, tapi ada 1 hal yg perlu anda ketahui!"
"Apa itu dok?"
"Ibu anda menderita kanker otak stadium 4, dan kami prediksikan hidupnya tinggal 1 tahun lagi"
Aku tersentak mendengarnya. Benar-benar terpukul, Bunda yg begitu aku sayang akan pergi dariku selamanya, aku seorang Via yang ternilai tomboy menangis sehari penuh.
Sabtu sore yang biasa kulalui dengan tak bersemangat, kini berubah. Aku berusaha lebih serius belajar bermain biola, memahami lagunya, dan belajar menyukainya. Selain itu aku juga mencoba mengikuti beberapa konser atau lomba bermain biola.
Beberapa bulan kemudian, Aku berhasil mewujudkan impian Bunda. Aku menjuarai beberapa lomba dan mengikuti konser di luar negeri. Tidak begitu lama, setelah kepulanganku ke tanah air tercinta dengan gelar Juara. Keadaan bunda semakin melemah, Aku hanya bisa menemani sisa waktunya.
"Via, terima kasih ya kamu telah menjadi apa yang seperti bunda harapkan"
Aku tersenyum sambil meraih tangan bunda yang masih berfungsi.
"Bila nanti bunda tiada, janganlah kamu menjadi anak yang pemurung. Hidupmu masih akan trus berjalan. Hidupilah hidupmu sendiri" Ujar Bunda
Aku mengangguk pelan, miris mendengar bunda dengan suara getar,
"Bunda percaya pada Via, bolehkah bunda mendengar sebuah lagu darimu? Sebagai lagu pertama dan terakhir yang bunda dengar darimu."
Aku mengangguk lalu beranjak mengambil biolaku, Aku berdiri disamping ranjang bunda, Kumainkan sebuah lagu kesayangan bunda. Bunda meneteskan air mata, Beliau tersenyum manis sebelum akhirnya menutup mata untuk selamanya.
Saat lagu itu belum selesai kumainkan. Aku menangis disamping jasad bunda. Semoga laguku dapat mengantarkan bunda ke surga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar